Kamis, 29 Maret 2012

Pembuatan Sediaan Malaria

· 0 komentar

Salah satu teknik diagnosis malaria yang paling diyakini dan dapat menemukan jenis serta stadium dari parasit Plasmodium adalah pemeriksaan mikroskopis dengan melakukan pembacaan sediaan darah malaria. Sediaan darah malaria dapat dibuat dalam 2 bentuk, yaitu : 1) Sediaan darah tipis / sedian apus darah dan 2) Sediaan darah tebal / sediaan tetes tebal. Sediaan apusan membutuhkan volume darah relatif sedikit dibandingkan dengan sediaan tetes tebal, sehingga peluang ditemukannya parasit juga relatif lebih sedikit. Apabila pemeriksaan bertujuan untuk hanya identifikasi semata, disarankan menggunakan sediaan tetes tebal karena akan lebih cepat menemukan parasit. Sebaliknya apabila sediaan digunakan untuk menonjolkan morfologi parasit, disarankan membuat sediaan apusan karena dengan sediaan apusan morfologi Plasmodium akan tampak lebih jelas dengan bagian-bagian yang relatif lengkap.
Langkah-langkah pembuatan sediaan malaria dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Disiapkan semua peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam pengambilan sample darah.
  2. Ujung jari yang akan diambil darahnya, hendaknya diremas/diurut lebih dahulu untuk mengumpulkan darah ke ujung jari.
  3. Usaplah ujung jari yang akan ditusuk menggunakan kapas alkohol 70 % dan biarkan kering angin (jangan ditiup).
  4. Tusuklah ujung jari tersebut menggunakan blood lancet steril.
  5. Teteskan darah yang keluar pada obyek glass. Upayakan pada minimal 2 buah obyek glass (satu untuk sediaan tipis satu lagi untuk sediaan tetes tebal)
  6. Usaplah bekas tusukan lancet menggunakan kapas kering.
  7. Untuk sediaan darah tipis lakukan penggeseran darah pada obyek glass tersebut menggunakan deck glass atau obyek glass lain, sedangkan untuk sediaan darah tebal, lebarkanlah sampel darah kira-kira selebar 1,5 cm. Keringkanlah di udara.
  8.  Lakukanlah pewarnaan dengan larutan Giemsa 1 :  9, selama kurang lebih 5 – 10  menit. (Pada sediaan darah tipis, sebelum diwarnai hendaknya dilakukan fiksasi menggunakan larutan methanol selama 1 menit. Sedangkan pada sediaan darah tebal hendaknya dilakukan proses hemolisis sampai sempurna sebelum diwarnai).
Catatan :
  • Dalam kondisi khusus penelitian/pengambilan data di lapangan seringkali dikembangkan teknik pewarnaan dengan larutan Giemsa pekat untuk sediaan darah tipis dalam rangka mempersingkat waktu pewarnaan dan dapat segera dilakukan pembacaan hasil (Ingat : pembuatan sediaan malaria tidak bertujuan untuk memperoleh apusan darah yang bagus untuk sel-sel darah sebagaimana sediaan untuk hematologi).
  • Perlakuan khusus untuk sediaan tebal biasanya dilakukan teknik autohemolisis dimana pewarna diencerkan lagi dari standart pengenceran sehingga proses hemolisis dapat sekaligus mewarnai sediaan.
  •  Pewarnaan dengan teknik “autohemolisis” lebih mudah dikerjakan dalam staining jar dengan cara merendam, bukan menggenangi sediaan darah kering.
  • Kondisional di lapangan kadang memunculkan teknik smart untuk percepatan mendapatkan hasil namun harus tetap memperhatikan faktor utama proses pembuatan sediaan malaria.
  • Larutan Giemsa yang digunakan harus enceran yang baru.

Read More......

CARA PEMBUATAN PREPARAT DARAH TEPI

· 0 komentar





Nah sebagai seorang analis harus mampu atu harus mempumyai skil ketrampilan dalam membuat sebuah preparat, 
Seperti membuat preparat apusan darah, preparat histologi jaringan preparat untuk pemeriksaan cacing, preparat dari sampel urin dan lainya, 
Yang berfungsi untuk membantu Dokter dalam menegakan diagnosa melalui pemeriksaan mikroskopik.
Mungkin sedikit tips atu cara untuk embuat preparat apusan darah tepi yang benar yang saya dapat ilmunya dari kuliah saya... Fungsi preparat ini untuk melihat jika terjadi kelainan, hitung jumlah dan yang lainnya. 
Berikut adalah langkah-langkah membuat preparat apusan darah tepi : 
 
1. Pilih spreader tepinya rata  

2. Pilih kaca obyek bersih & kering  

3. Satu 1 tetes darah 1-1,5 cm. Tengah satu sisi kaca obyek (kanan), lihat gambar di bawah ini :



4. Spreader tarik mundur menyentuh tetesan darah, membentuk sudut 25-30*, lihat contoh gambar di bawah ini :

5. Setelah tetesan darah melebar (± 3 cm), dorong kaca penggeser, ke arah depan cepat 

6. Di geser sampai darah habis tergeser (apusan kurang lebih 3 cm panjangnya. Waktu menggeser tekanan stabil, sudut 25-30 derajat, lihat contoh gambar di bawah ini :


7. Keringkan di udara beri identitas di daerah yang tebal.

8. Selesai

Penilaian Kualitas Preparat yang Sudah Dibuat Tadi :
* Lebar x panjang kira-kira 2,5 x 3 cm
* Ada bagian yang tebal dan tipis. - Terlalu tebal sel-sel eritrosit menutupi satu sama lain sehingga mempersulit penilaian, - Terlalu tipis sel-sel akan kehilangan bentuk bikonkafitasnya terutama daerah tepi.
* Ekor tidak seperti bendera robek
* Preparat tidak berlobang 
* Preparat tidak terputus-putus,
* Lihat contoh preparat yang bagus atau yang layak di baca di bawah ini :


* Contoh preparat yang tidak layak atau tidak bisa di baca :


* Tidak layak karena :
- Preparat berlobang  
- Preparat terputus-putus

Read More......

Pemeriksaan laboratorium patologi klinik infeksi tuberkulosis

· 0 komentar


Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru dan dapat menyebar ke organ-organ lain. Indonesia adalah negara dengan prevalensi TBC ke-3 di dunia setelah China dan India, dan TBC sendiri termasuk dalam tiga besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional TBC paru diperkirakan 0,24%. Penyakit TBC sering menyerang orang dengan gangguan/defisiensi imun, gizi buruk, debilitas, serta bertempat tinggal di lingkungan yang padat dan tidak sehat.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit TBC dapat dilakukan berbagai modalitas. Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis yang cermat, dilakukan pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan radiologis (menemukan infiltrat, kavitas di apex dsb), mikrobiologis (menemukan bakteri M. tuberculosis dengan kultur sputum dan pewarnaan BTA), tes Tuberkulin dan pemeriksaan darah di laboratorium patologi klinik. Dari kesemuanya itu, pemeriksaan darah kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik.
Pada saat TBC baru mulai aktif terdapat sedikit leukositosis dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. LED mulai turun ke arah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer, gama globulin sedikit meningkat dan kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
Berikut adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang rutin dilakukan terutama untuk mendiagnosis penyakit tuberculosis:
Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul yang terdiri dari 4 kandungan haem (berisi zat besi) dan 4 rantai globin, berada di dalam eritrosit dan bertugas utama untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah darah ditentukan oleh kadar hemoglobin. Struktur Hb dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asam amino pada rantai alfa, dan 146 molekul asam amino pada ranta beta, gamma dan delta
Nilai normal Hb
Wanita             : 12-16 gr/dl
Pria                  : 14-18 gr/dl
Anak                : 10-16 gr/dl
Bayi baru lahir   : 12-24 gr/dl
Penurunan Hb terdapat pada penderita anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan IV yang berlebihan, penyakit Hodgkins dan obat-obatan (antibiotika, aspirin dll). Sedangkan peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung kongestif dan luka bakar hebat.

Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik untuk jenis bergranula (PMN) dan jaringan limpatik untuk jenis tak

Read More......
· 0 komentar

Pemeriksaan laboratorium patologi klinik infeksi tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru dan dapat menyebar ke organ-organ lain. Indonesia adalah negara dengan prevalensi TBC ke-3 di dunia setelah China dan India, dan TBC sendiri termasuk dalam tiga besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional TBC paru diperkirakan 0,24%. Penyakit TBC sering menyerang orang dengan gangguan/defisiensi imun, gizi buruk, debilitas, serta bertempat tinggal di lingkungan yang padat dan tidak sehat.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit TBC dapat dilakukan berbagai modalitas. Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis yang cermat, dilakukan pemeriksaan penunjang. Seperti pemeriksaan radiologis (menemukan infiltrat, kavitas di apex dsb), mikrobiologis (menemukan bakteri M. tuberculosis dengan kultur sputum dan pewarnaan BTA), tes Tuberkulin dan pemeriksaan darah di laboratorium patologi klinik. Dari kesemuanya itu, pemeriksaan darah kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik.
Pada saat TBC baru mulai aktif terdapat sedikit leukositosis dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. LED mulai turun ke arah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain didapatkan juga anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer, gama globulin sedikit meningkat dan kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
Berikut adalah pemeriksaan-pemeriksaan yang rutin dilakukan terutama untuk mendiagnosis penyakit tuberculosis:
Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul yang terdiri dari 4 kandungan haem (berisi zat besi) dan 4 rantai globin, berada di dalam eritrosit dan bertugas utama untuk mengangkut oksigen. Kualitas darah dan warna merah darah ditentukan oleh kadar hemoglobin. Struktur Hb dinyatakan dengan menyebut jumlah dan jenis rantai globin yang ada. Terdapat 141 molekul asam amino pada rantai alfa, dan 146 molekul asam amino pada ranta beta, gamma dan delta
Nilai normal Hb
Wanita             : 12-16 gr/dl
Pria                  : 14-18 gr/dl
Anak                : 10-16 gr/dl
Bayi baru lahir   : 12-24 gr/dl
Penurunan Hb terdapat pada penderita anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan IV yang berlebihan, penyakit Hodgkins dan obat-obatan (antibiotika, aspirin dll). Sedangkan peningkatan Hb terdapat pada pasien dehidrasi, polisitemia, PPOK, gagal jantung kongestif dan luka bakar hebat.

Leukosit
Leukosit adalah sel darah putih yang diproduksi oleh jaringan hemopoetik untuk jenis bergranula (PMN) dan jaringan limpatik untuk jenis tak

Read More......

eosinofil

· 0 komentar

Eosinofil dikelilingi sel darah merah.

Eosinofil (bahasa Inggris: eosinophil, acidophil) adalah sel darah putih dari kategori granulosit yang berperan dalam sistem kekebalan dengan melawan parasit multiselular dan beberap infeksi pada makhluk vertebrata. Bersama-sama dengan sel biang, eosinofil juga ikut mengendalikan mekanisme alergi.
Eosinofil terbentuk pada proses haematopoiesis yang terjadi pada sumsum tulang sebelum bermigrasi ke dalam sirkulasi darah.
Eosinofil mengandung sejumlah zat kimiawi antara lain histamin, eosinofil peroksidase, ribonuklease, deoksiribonuklease, lipase, [[plasminogen] dan beberapa asam amino yang dirilis melalui proses degranulasi setelah eosinofil teraktivasi. Zat-zat ini bersifat toksin terhadap parasit dan jaringan tubuh. Eosinofil merupakan sel substrat peradangan dalam reaksi alergi. Aktivasi dan pelepasan racun oleh eosinofil diatur dengan ketat untuk mencegah penghancuran jaringan yang tidak diperlukan.
Individu normal mempunyai rasio eosinofil sekitar 1 hingga 6% terhadap sel darah putih dengan ukuran sekitar 12 - 17 mikrometer.
Eosinofil dapat ditemukan pada medulla oblongata dan sambungan antara korteks otak besar dan timus, dan di dalam saluran pencernaan, ovarium, uterus, limpa dan lymph nodes. Tetapi tidak dijumpai di paru, kulit, esofagus dan organ dalam lainnya, pada kondisi normal, keberadaan eosinofil pada area ini sering merupakan pertanda adanya suatu penyakit.
Eosinofil dapat bertahan dalam sirkulasi darah selama 8-12 jam, dan bertahan lebih lama sekitar 8-12 hari di dalam jaringan apabila tidak terdapat stimulasi.

Read More......

hematologi rutin dan sederhana

· 0 komentar


Hematologi
Adalah bagian dari salah satu ilmu kedokteran, dimana mempelajari tentang sel-sel darah dan beberapa jaringan atau faktor yang berhubungan dgn pembentukan, maintenance (perawatan) dan fungsi dari sistim sirkulasi (aliran darah) (Fraser, AR, 95)
1. Hematologi sederhana/ rutin:   
    - (Hitung Lekosit, Hitung Eritro-
      sit, Hmt, Hb, Hitung Jenis Leko-
      sit (Differential Counting/Diff.
      Count/ Diff Tell), Hitung Trom-
      bosit, LED, dan Hitung Retikulo-
      sit )
    - CT/BT 
    - PT/ APTT
    - LPB
    - Malaria/DDR

2. Hematologi lengkap/ khusus:
   à Hematologi rutin ditambah pemerik-
   saan dibawah ini:
   - Indeks eritrosit:
       * MCV (Mean Corpusculer Volume)
       * MCH (Mean
       * MCHC
   - RDW (Red Distribution Width)
   - PDW (Platelette Distribution Width)
   - MDT (Morfologi Darah Tepi)/ GDT
     (Gambaran Darah Tepi)
* BMP (Bone Marrow Puncture)/ Aspirasi
               Sumsum Tulang
           * Tes Fragilitas Osmotik/ Daya Tahan Osmotik/ OFT
              (Osmotic Fragylity  Test)
           * Tes Hemostasis
           * Tes Koagulasi
           * Tes Coomb / Coomb test
           * Tes D-Dimer
           * Tes Golongan Darah
           * Tes Golongan Rhesus
           * Tes Pencocokan Silang/ Cross-Match Test

* CRP  (C-Reactive Protein) Test
           * Tes  LE/  SLE (Lupus Eritromatosus) / Syndroma
               Lupus Erythematosus)
           * Tes Filaria (microfilaria)
           * Tes Kadar Besi Serum/ SI (Serum Iron)
           * Tes  Kapasitas Ikat Besi Total dalam serum/ TIBC
              (Serum Total Iron Binding Capacity)
           * Tes  Saturasi Transferin dalam serum / Sat %  (Serum 
               Transferin Saturation)
           * Tes  Hemosiderin pada Sumsum Tulang
           * Tes Kadar Haptoglobin dalam serum (serum
               Haptoglobin)
           * Tes Kadar Vit. B12 dalam serum (serum Vit. B12)
* Tes Hemaglutinin dingin (Cold Hemaglutinin)
           * Rumpel Leed (Torniquet) Test

Read More......

hematologi

· 0 komentar

Slide 2

Adalah bagian dari salah satu ilmu kedokteran, dimana mempelajari tentang sel-sel darah dan beberapa jaringan atau faktor yang berhubungan dgn pembentukan, maintenance (perawatan) dan fungsi dari sistim sirkulasi (aliran darah) (Fraser, AR, 95)
§

Read More......

Rabu, 28 Maret 2012

PEMERIKSAAN HbA1C

· 0 komentar


Dalam melakukan kegiatan sehari-hari kita memerlukan energi yang berasal dari berbagai sumber seperti makanan yang nantinya akan diserap oleh tubuh dalam bentuk glukosa dan kemudian akan digunakan oleh sel-sel tubuh yang memerlukan energi ataupun disimpan dalam hati dan otot sebagai cadangan energi tersebut.
Pemantauan kadar glukosa atau A1c sangat baik dilakukan untuk menilai penanganan penyakit diabetes, karena kontrol glikemik yang buruk dalam jangka panjang akan menyebabkan komplikasi seperti retinopati dll.


Diabetes atau penyakit DM (Diabetes Melitus) merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah yang melebihi normal.
Dalam hal ini apabila dibiarkan tidak terkendali maka DM akan menimbulkan penyulit-penyulit yang dapat berakibat fatal seperti penyakit jantung, ginjal, kebutaan dan amputasi.
Penderita DM harus dapat menjaga agar konsentrasi glukosa darahnya senormal mungkin untuk mencegah timbulnya komplikasi, oleh sebab itu diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk pemantauan konsentrasi glukosa darahnya. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain :
  1. Gula darah puasa
  2. Gula darah 2 jam post prandial
  3. Konsentrasi HbA1C
Apa itu HbA1c dan apa manfaatnya ?
HbA1c dikenal juga sebagai hemoglobin terglikasi, hemoglobin terglikosilasi atau fraksi hemoglobin yang berikatan langsung dengan glukosa. HbA1c digunakan untuk menggambarkan komponen stabil hemoglobin yang terbentuk dari reaksi non enzimatik lambat.
Jumlah HbA1c yang terbentuk dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh rata-rata konsentrasi glukosa darah. HbA1c yang dibentuk dalam tubuh akan terakumulasi dalam sel-sel darah merah dan akan terurai perlahan bersamaan dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari atau sekitar 3 bulan).
Karena ikatan HbA1c dapat bertahan lama, dan jumlah HbA1c yang terbentuk tergantung pada konsentrasi glukosa darah, maka pemeriksaan HbA1c dapat menggambarkan konsentrasi glukosa darah rata-rata selama 1-3 bulan.

Pemeriksaan HbA1c berbeda dengan pemeriksaan glukosa darah, dimana pada pemeriksaan glukosa darah hanya dapat mencerminkan konsentrasi glukosa darah pada saat diperiksa saja, sedangkan pada pemeriksaan HbA1c dapat memberikan gambaran rata-rata glukosa darah selama 1-3 bulan, dan juga pada pemeriksaan HbA1c tidak dipengaruhi oleh asupan makanan, olahraga ataupun obat yang  dikonsumsi.
Jadi meskipun pada saat pemeriksaan konsentrasi glukosa darah puasa dan 2 jam pp dalam rentang normal (untuk pasien DM) belum tentu pengendalian konsentrasi glukosa darahnya baik.

Kriteria Pengendalian DM Berdasarkan Nilai HbA1c
Baik      : Kadar HbA1c <6,5 %
Sedang  : Kadar HbA1c 6,5 % - 8 %
Buruk    : Kadar HbA1c >8 %

Manfaat pemeriksaan HbA1c
  1. Mengukur kadar glukosa darah rata-rata selama 120 hari yang lalu (sesuai usia eritrosit)
  2. Menilai efek perubahan terapi 8 - 12 minggu sebelumnya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menilai hasil pengobatan jangka pendek
  3. Menilai pengendalian penyakit DM dengan tujuan mencegah terjadinya komplikasi diabetes

Read More......

PEMERIKSAAN WIDAL MASIH AKURATKAH ?

· 0 komentar


 Beberapa minggu yg lalu ketika saya berkunjung ke suatu laboratorium daerah, ternyata jenis pemeriksaan untuk diagnosa demam tipoid masih menggunakan teknik widal, sehingga artikel ini saya tulis untuk menyambung dan menegaskan artikel sebelumnya yg berjudul DETEKSI DINI DEMAM TYPHOID pada pebruari lalu.

Pemeriksaan widal adalah salah satu pemeriksaan yg bertujuan untuk menegakan diagnosa demam tipoid. Pemeriksaan ini masih banyak dipakai di negara-negara berkembang dikarenakan biayanya yg relatif terjangkau dan hasilnyapun dpt diketahui dgn segera.

Pemeriksaan widal bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi (kekebalan tubuh) terhadap kuman salmonela dgn cara mengukur kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam sampel darah. Tubuh kita akan membentuk antibodi jika terpapar kuman salmonela typhi, baik kuman yg masuk secara alamiah dan menyebabkan sakit, kuman yg masuk namun tidak menunjukan gejala (karier) ataupun melalui vaksinasi.

Berbagai cara dan teknik dalam pemeriksaan laboratorium telah banyak berkembang ke arah yg lebih baik, sehingga pemeriksaan widal tidak lagi bisa mengetahui apakah hasil positif pada pemeriksaan tersebut terkait dengan infeksi yg saat ini sedang terjadi atau infeksi yg terdahulu (sebelumnya).

Pada pasien yg saat ini tidak sedang sakitpun pemeriksaan widal mungkin saja menunjukan hasil yg positif, pada pasien yg mendapat vaksinasi tipoid hasil pemeriksaan widalnyapun bisa positif. Perlu diperhatikan sobat analis semua bahwa pemeriksaan widal yg positif bukan hanya terjadi pada infeksi kuman salmonella typhi, namun juga akibat infeksi kuman salmonella yg lain, sehingga pada saat ini pemeriksan ini tidak dapat lagi dijadikan acuan pemeriksaan yg spesifik terhadap penyakit tipoid.

Pengambnilan sampel pasien untuk pemeriksaan widal juga kadang kurang tepat waktunya, karena berdasarkan perjalanan penyakitnya antibodi terbentuk pada hari ke 5-7 ke atas, sehingga tidak bijak jika pemeriksaan widal dilakukan sebelum hari ke 5, dan kalaupun pada pemeriksaan wideal didapat hasil yg positif pada sebelum hari ke 5 maka yg terdeteksi tersebut dimungkinkan antibodi yg terbentuk tersebut berasal dari infeksi sebelumnya. Mengingat adanya kelemahan tersebut maka pada saat ini di era kemajuan teknik pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan tersebut seharusnya tidak lagi menjadi pilihan, meskipun masih saja dilakukan di laboratorium-laboratorium pratama atau di daerah-daerah dimana teknik pameriksaan yg lain belum tersedia, namun tetap memperhatikan hal-hal penting dalam menegakan diagnosa tipoid yaitu tanda klinis yg menunjang (demam lebih dari 7 hari, anamnesis dan pemeriksaan fisik) atau dilakukan pemeriksaan widal serial pada minggu ke 1 dan minggu ke 2 dan pada periode convalescence saat demam mulai turun (pemeriksaan cukup bermakna jika terdapat kenaikan titer 2-4 kali).


Pemeriksan yang tepat
Dari gejala-gejala klinik yang mengarah ke arah demam tipoid, pemeriksaan di bawah ini seharusnya direkomendasikan oleh seorang dokter untuk menegakan diagnosanya ;
1.Pemeriksaan laboratorium sederhana, sehingga pada pemeriksaan tersebut didapatkan leukopenia, aneusinofilia, trombositopenia, dan limpositosos relatif
2.Pemeriksaan IgM Anti Salmonella (Tubex TF)
Pada pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya antigen spesifik dari kuman salmonella walaupun pemeriksaan dilakukan dalam minggu pertama setelah demam.
3.Kultur darah
Pemeriksaan ini merupakan gold standar untuk pemeriksaan demam tipoid
4.PCR (polymerase Chain Reaction)
Pemeriksaan ini walaupun lebih baru namun pemeriksaannya kurang praktis dan harganya lebih mahal

Dengan melakukan pemeriksaan yang terarah diharapkan demam tipoid dapat ditegakan dengan cepat dan tepat, semoga.

Read More......

DETEKSI DINI DEMAM TYPHOID

· 0 komentar


Tiap malem begaaaadang aja, susah banget utk bisa tidur, sekalinya dikasih kerja pagi wuaaaach masih ngantuk. Tapi bagaimanapun juga sy hrs semangat kerja pagi, semangat, semangat, semangat.

Ha ha mumpung masih nyantai nulis artikel dulu ah. Bingung sebenarnya mau nulis apa dan mulai dari mana, tapi 'mmm sy bahas tentang pemeriksaan tipus aja deh.

Demam tifoid (alias tipus / thypus) masih merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia ini. Penyakit ini biasanya mewabah pada musim hujan, mmm juga musim kemarau. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi . Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi (bilang aja perpindahan penduduk, ya), kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidak khas, dan bervariasi dari gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak sistem organ (itu kata dokter di tmpt sy kerja).
Secara klinis gambaran penyakit typus berupa demam berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan susunan saraf pusat.
1.Panas lebih dari 7 hari, biasanya mulai dengan demam tidak tinggi yang makin hari makin meninggi, sehingga pada minggu ke 2 panas tinggi terus menerus terutama pada malam hari.
2.Gejala pencernaan dapat berupa diare, mual, muntah, dan kembung.

Penularan penyakit ini melalui makanan dan minuman yang tercemar kuman Salmonella .Gambaran klinis demam tifoid seringkali tidak spesifik sehingga dalam menegakan diagnosis diperlukan konfirmasi pemeriksaan laboratorium (he he jual diri)
Pemeriksaan laboratorium yang selama ini banyak dilakukan adalah pemeriksaan serologis yaitu Widal. Pemeriksaan ini mengukur kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah (antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12).
Uji widal positif artinya ada zat anti (antibodi) terhadap kuman Salmonella, yang menunjukkan bahwa seseorang pernah kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tersebut.

Beberapa hal yang sering disalah artikan :
1. Pemeriksaan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh, ini merupakan pengertian yang salah, soalnya tes widal hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap kuman Salmonella.
2. Pemeriksaan widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil positif dianggap masih menderita tifus, ini juga pengertian yang salah.

Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil uji widal kemungkinan positif untuk waktu yang agak lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan.

Hasil ulang pemeriksaan widal positif setelah mendapat pengobatan tifus, bukan indikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai.

Hasil uji negatif jangan terlalu dianggap tidak menderita tifus :
Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif pada 5 hari atau lebih setelah infeksi. Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari, sering kali hasilnya masih negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. Dengan demikian, hasil uji widal negatif terutama pada beberapa hari pertama demam belum dapat menyingkirkan kemungkinan tifus.

Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid :
1. Tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus.
2. Uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis.
3. Lakukan tes lanjutan (tes yang paling akurat adalah dengan kultur darah / gal cultur)
Pemeriksaan gal cultur memiliki kelemahan, yaitu hasil pemeriksaan yg cukup lama (5-7 hari) dan harga yg lebih mahal.

Memang terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji widal karena kita tinggal di daerah endemik, yang mana sebagian besar populasi sehat juga pernah kontak atau terinfeksi yang sedikit demi sedikit menghasilkan antibodi, sehingga menunjukkan hasil uji widal yang positif (walaupun hanya dengan kadar yang rendah), he he so tau lagi.
Kelemahan pemeriksaan ini adalah sensitivitas yang kurang, dan bisa memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal yang negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi.

Beberapa keterbatasan uji Widal ini adalah :
1. Negatif Palsu
Pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya (ini kejadian paling sering di daerah saya, demam –> kasih antibiotika –> nggak sembuh dalam 5 hari –> tes Widal) sehingga dpt menghalangi respon antibodi. Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur darah.

2. Positif Palsu
- Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C) memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu. Padahal mungkin yang positif yaitu kuman non S. typhi (bukan tifoid).
- Beberapa penyakit lainnya : malaria, tetanus, sirosis, dll.
***

Pemeriksaan yang dapat dijadikan alternatif untuk mendeteksi penyakit demam typhoid lebih dini adalah mendeteksi antigen spesifik dari kuman Salmonella melalui pemeriksaan IgM Anti Salmonella (Tubex TF). Pemeriksaan ini lebih spesifik dan lebih sensitive, juga lebih praktis untuk deteksi dini infeksi akibat kuman Salmonella typhi.

Keunggulan pemeriksaan TUBEX TF :
1. Mendeteksi secara dini infeksi akut akibat Salmonella typhi, karena antibody IgM muncul pada hari ke 3 terjadinya demam.
2. Mempunya sensitivitas yang tinggi terhadap kuman Salmonella ( > 95 %)
3. Hanya dibutuhkan sample darah sedikit
4. Hasil dapat diperoleh lebih cepat.

Dengan pemeriksaan TUBEX TF diharapkan diagnosis demam typhoid dapat ditegakkan lebih dini sehingga pengobatan yang tepat dapat segera diberikan, dengan demikian dapat menurunkan angka kematian akibat kompikasi demam typhoid.

Read More......

Antara DRT atau Dengue NS 1 Antigen

· 0 komentar





Demam Berdarah iiih cukup menakutkan dan membosankan lagi, abiiis pasiennya harus diambil darah melulu, ngerjain aja tuh penyakit, capppe dech. Tp, mmm karena itu sudah tugas, so sy harus ikhlas juga sih.

Kasus demam berdarah di tempat kerja sy kembali meningkat lagi, dan menemukan pasien dengan jumlah trombosit <30rb bukan hal aneh lagi (kaya lalapan aja ya). Susah sih menyatukan ideologi bahwa lingkungan itu harus benar-benar bersih, contohnya di kota sy, sampah menumpuk kepanasan kehujanan jadinya iih bau, belum lagi selokan yg tergenang alias airnya tidak mengalir. Pemberantasan Demam Berdarah bukan hanya tugas pemerintah lagi, tapi kita sebagai anggota masyarakat yg hidup di lingkungan tersebut, so pemberantasan jentik nyamuk, pengasapan ataupun pemberian obat abate pada air yang sering kita konsumsi menjadi patut diperhitungkan.
Demam berdarah atau demam dengue adalah penyakit yang ditimbulkan oleh vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus. Sebagai catatan sobat semua, tidak ada vaksin untuk menghadang virus dengue, sehingga pencegahan dan diagnosa merupakan hal yang paling utama yang harus dilakukan.
Gejala awal dari infeksi virus dengue tidaklah khas atau spesifik, biasanya timbul berupa sakit panas biasa, sedangkan gejala spesifik seperti timbulnya bintik-bintik kecil di kulit, perdarahan gusi, hidung (mimisan), ataupun melena (faeces berwarna hitam) biasanya timbul pada kasus demam berdarah tahap serius.

Dalam menegakan diagnosa tehadap penyakit ini biasanya diperlukan suatu pemeriksaan laboratorium, Pemeriksaan sederhana yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan darah rutin. Dalam pemeriksaan itu biasanya didapat hasil Hb dan Ht agak tinggi, sedangkan leukosit dan trombosit cenderung turun. Tapi berdasarkan pengalaman (weeeeh belagu ya, he he) kadang didapat hasil yang masih normal yang mungkin karena daya tahan tubuhnya masih kuat, sehingga pemeriksaan harus dilanjutkan ke tahap yang lebih spesifik.

Pemeriksaan yang sering diminta oleh dokter pengirim biasanya pemeriksaan DRT (Dengue Rapid Tes) ataupun Dengue NS-1 Antigen hal ini karena pemerikasan tersebut dapat selesai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Pemeriksaan DRT adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dengue yang merupakan respon tubuh terhadap masuknya virus ke dalam tubuh pasien. Terdapat 2 jenis antibodi yaitu IgG dan IgM. IgG biasanya menunjukan bahwa pasien tersebut telah atau pernah terinfeksi, sedangkan IgM menunjukan bahwa pasien tersebut baru terinfeksi (he he so tau ya) .
Oya dalam masalah ini mungkin sobat pernah denger tentang infeksi primer ataupun infeksi sekunder, kalo tidak salah (he he jadi malu) infeksi primer terjadi pada pasien yang baru terinfeksi virus, biasanya kadar IgM muncul pada hari ke 4-6 setelah gejala panas dan dapat bertahan sampai 10 minggu, sedangkan IgG muncul pada kira-kira 2 minggu setelah gejala panas dan dapat bertahan cukup lama. Sedangkan infeksi sekunder terjadi pada pasien yang pernah terinfeksi atau teinfeksi oleh serotif dengue yang berbeda, so infeksi ini bisa jadi masalah serius buat pasien tersebut. Pada infeksi ini biasanya kadar IgG naik cepat pada hari ke 1 atau 2 setelah gejala panas, sedangkan IgM biasanya negatif atau kedarnya sangat rendah.

Pemeriksaan DRT meskipun cukup baik dalam mendeteksi adanya infeksi virus dengue dalam tubuh seseorang tapi masih memiliki kekurangan dalam mendeteksi virus dengue secara dini, hal tersebut dikarenakan yang diperiksa adalah antibodi terhadap virus dengue, sedangkan antibodi baru muncul hari ke 4 setelah infeksi, sehingga dengan pemeriksaan ini tidak dapat mendeteksi adanya infeksi dengue pada panas hari ke 1-4.


Jrenggg nyampe juga ke pembahasan terakhir, huuuuaah nguantuk

Virus dengue terdiri dari 3 protein Struktural dan 7 protein nonstruktural. 7 protein Non Struktural terdiri dari NS1, NS2a, NS 2b, NS3, NS4a, NS4b dan NS5. Pemeriksaan Dengue NS1 Antigen merupakan pemeriksaan yang berfungsi untuk mendeteksi adanya bagian tubuh virus itu sendiri. Karena mendeteksi bagian tubuh virus sehingga tidak menunggu respon tubuh terhadap infeksi maka pemeriksaan ini dilakukan paling baik saat panas hari ke 1 sampai hari ke 4. Setelah hari ke 4 kadar NS1 antigen ini mulai menurun dan akan hilang sekitar hari ke 9 setelah infeksi.
So apabila panas masih awal pilihan pemeriksaannya adalah Dengue NS1 Ag, tetapi apabila sudah melewati hari ke-4 panas maka pilihannya adalah pemeriksaan DRT. Tp terkadang dokter di tempat kerja sy minta kedua pemeriksaan ini dilakukan bersamaan, sy sebagai analis jadi bingung, egp aja lah, eh tapi mungkin pasien waktu datang ke dokter saat panas hari ke 3-5 kali ya (alias borderline atau kesana ngga kesini ngga).

Udah ah nguantuk berat. Moga bermanfat

Read More......

BTA

· 0 komentar


TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh Micobakterium tuberkulosa.
Sobat kamu tau nggak kenapa yg sakit TBC sering disebut KP? tadinya sy menyangka kepanjangan dari Kelainan Paru (walaupun iya juga sih), tp begini ceritanya : penemu Micobakterium tuberkulosa itu yaitu Robert Koch thn 1882 (so' tau ya, padahal sy blm lahir), makanya kadang-kadang bakteri itu disebut basil koch, dan penyakit TBCnya disebut Koch Pulmonum (alias KP).

Penyakit TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh manusia seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain (kecuali rambut, uppps itu mah bukan organ) meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.


Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat.
Gejala umum (sistemik)
* Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
* Penurunan nafsu makan dan berat badan.
* Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
* Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus
* Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
* Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
* Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
* Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC (iiih amit-amit), maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

* Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
* Pemeriksaan fisik.
* Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak).
* Rontgen dada (thorax photo).
* Uji tuberkulin.

Uji tuberkulin, waah kalo sy jarang sekali mendengarnya, tp kalo sobat semua sering kali ya!. itu adalah uji mantoux (naah kalo ini sering denger). uji mantoux efektif pd anak-anak, tp dengan bertambahnya usia anak, uji ini semakin kurang spesifik.
Sobat, kamu pernah nggak melakukan uji ini? kalo belum, caranya suntikan reagen secara intrakutan (ke dlm kulit) pada tangan kiri anak pada ½ bagian atas lengan bawah bagian depan (nah lo bingung), hasil dibaca 2-3 hari setelah penyuntikan.
Interpretasi hasil
1. Pembengkakan (Indurasi) 0–4mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa.
2. Pembengkakan (Indurasi) 3–9mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mikobakterium atipik atau setelah vaksinasi BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) >= 10mm,uji mantoux positif.
Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.

BTA
Pemeriksaan BTA ada 2 metoda, yaitu metoda kinyon gabbet dan metoda ziehl neelsen. Sebetulnya cara kerjanya gampang sobat semua pasti sdh tau lah), tp sy hanya mengingatkan sj,
kalo dgn metoda kinyon gabbet, setelah preparat dipiksasi lalu tambahin larutan kinyon sekitar 1 menit, kemudian larutan gabbet sekitar 1 menit, lalu cuci dan keringkan.
kalo dgn metoda ziehl neelsen, setelah preparat dipiksasi tambahin carbol fuchsin (sampai tertutupi) lalu piksasi sampai kering. setelah didinginkan cuci lalu tambahin asam alkohol sampai warna merah hilang kemudian cuci lagi. terakhir tambahin methylene blue sekitar 30 detik, lalu cuci lagi dan keringkan.
Hasil pemeriksaan BTA positif jika ditemukan bakteri batang berwarna merah (tahan terhadap asam)

Sebagai catatan sobat semua, kualitas dahak yg baik dinilai dgn melihat di bawah mikroskop pd pembesaran 100x yaitu terlihat >25 leukosit (sel radang) dan juga sel debu atau makrofag.

Pelaporan

- Jika sobat tdk menemukan BTA dlm minimal 100 lapang pandang berarti BTA Negatif
- Jika menemukan BTA 1-9 dlm 100 lapang pandang berarti pemeriksaan harus diulang kata orang WeHaO mah, atau sobat cukup tuliskan jumlah BTA yg ditemukan dlm 100 lapang pandang tersebut.
Tp kalo sy langsung aja kasih +1, ssssssttt jangan bilang-bilang ya!
- Jika menemukan kira-kira 9-100 BTA dlm 100 lapang pandang, naaah itu baru BTA +1
- Jika menemukan 1-10 BTA pd tiap lapang pandang (tp liatnya minimal 10 lapang pandang pastinya) itu namanya BTA +2
- Jika menemukan >10 BTA pd tiap lapang pandang (jgn lupa liatnya minimal 10 lapang pandang ok!) itu namanya BTA +3, (isinya pasti rame kaya di kebon binatang, he he)

Read More......

MALARIA

· 0 komentar



Sedikit plash back dulu ah, soalnya hari ini sy sdg inget tempo doeloe, yg mana tiap jauh darinya selalu dihinggapi rasa kangen, kata orang sih terserang malarindu. Tp sekarang hal tersebut sdh expire, he he he. so sy tidak akan membahas malarindu lagi, tapi malaria aja.

MALARIA
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium dan mudah dikenali dari gejalanya yaitu meriang (panas dingin menggigil) serta demam berkepanjangan.

Waktu kuliah dulu, dikenal ada beberapa jenis species malaria, yaitu
1. Plasmodium falciparum
2. Plasmodium vivax
3. Plasmaodium malariae
4. Plasmodium ovale
Gejala tiap-tiap jenis malaria biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil dan keringat dingin. Dlm beberapa kasus yg tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik.
Jenis malaria yg paling ringan adalah malaria tertiana yg disebabkan oleh Plasmodium vivax, dgn gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi).
Demam rimba (jungle fever ) atau disebut juga malaria tropika disebabkan oleh Plasmodium falciparum yg merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria karena parasit ini dpt menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau, serta kematian

PERBANDINGAN




Dalam kesempatan ini sy tidak akan membahas semua plasmodium tersebut, maklum ilmunya sangat terbatas sekali. Sy akan membahas tentang P.vivax dan P.Falsiparum saja karena itu yg sering ditemui dilapangan (bukan lapangan olahraga lo, tp maksudnya dunia kerja)

Plasmodium falciparum
Yang harus diperhatikan dlm pemeriksaan parasit ini yaitu :
1. Eritrosit tidak membesar
2. Terdapat titik maurer disekitar parasit
3. Bentuk titik Maurer kasar
4. Stadium yang ditemukan umumnya trofozoit dan gametosit
5. Bila ditemukan stadium skizon di sediaan darah tepi menandakan adanya infeksi berat

Stadium trofozoit





Stadium skizon (jarang ditetmukan di dlm darah tepi)
Ciri-ciri:
- Eritrosit tidak membesar
- Parasit: jumlah inti 2 - 24
- pigmen sudah menggumpal berwarna hitam




Stadium gametosit
- eritrosit tidak membesar
- Parasit:
* bentuk pisang agak lonjong atau seperti sosis (mikrogametosit)
* plasma biru atau merah muda (mikrogametosit)
* inti padat (kalau mikrogametosit tdk padat)
* pigmen di sekitar inti atau tersebar (mikrogametosit)






Plasmodium vivax
Morfologi


Yang harus diperhatikan dlm pemeriksaan parasit ini yaitu :
1. Eritrosit membesar
2. Terdapat titik schuffner disekitar parasit
3. Titik Schuffner bentuknya halus dan tersebar merata di sekitar parasit
4. Stadium yang ditemukan :
trofozoit, skizon dan gametosit (semua stadium)

Stadium trofozoit
Ciri-ciri : - eritrosit membesar
- bentuk cincin ( besarnya 1/3 eritrosit)
- mulai tampak titik schuffner.



Stadium skizon
Ciri-ciri : - eritrosit : membesar
- jumlah inti 12 - 24
- pigmen : kuning tengguli berkumpul
- titik schuffner masih tampak dibagian pinggir eritrosit




Stadium makrogametosit
Ciri-ciri : - eritrosit membesar
- inti kecil, padat, pigmen tersebar
- protoplasma biru
- titik schuffner masih tampak di pinggir

Read More......

ANALISA SPERMA

· 2 komentar




Pemeriksaan sperma (lebih tepatnya analisis semen) adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur jumlah serta kualitas semen dan sperma seorang pria. Pengertian semen berbeda dengan sperma. Secara keseluruhan, cairan putih dan kental yang keluar dari alat kelamin pria saat ejakulasi disebut semen. Sedangkan 'makhluk' kecil yang berenang-renang di dalam semen disebut sperma.
Analisis semen merupakan salah satu pemeriksaan tahap pertama untuk menentukan kesuburan pria. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan apakah ada masalah pada sistim produksi sperma atau pada kualitas sperma, yang menjadi biang ketidaksuburan. Perlu diketahui, hampir setengah pasangan yang tidak berhasil memperoleh keturunan, disebabkan karena ketidaksuburan pasangan prianya.

Ada dua tahap penting pada pemeriksaan sperma, yaitu tahap pengambilan sampel dan tahap pemeriksaan sperma.
Pada tahap pengambilan sampel, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Pria yang akan diambil semennya dalam keadaan sehat dan cukup istirahat. Tidak dalam keadaan letih atau lapar.
2. Tiga atau empat hari sebelum semen diambil, pria tersebut tidak boleh melakukan aktifitas seksual yang mengakibatkan keluarnya semen. WHO bahkan merekomendasikan 2 – 7 hari harus puasa ejakulasi, tentunya tidak sebatas hubungan suami istri, tapi dengan cara apapun.
3. Semen (sperma) dikeluarkan melalui masturbasi di laboratorium (biasanya disediakan tempat khusus). Sperma kemudian ditampung pada tabung terbuat dari gelas.
4. Masturbasi tidak boleh menggunakan bahan pelicin seperti sabun, minyak, dll.
Sedangkan pada tahap kedua, dilakukan pemeriksaan sampel semen di laboratorium.

Beberapa hal yang diperiksa antara lain :
Hitung Sperma (Sperma Count)
Semen normal biasanya mengandung 20 juta sperma per mililiternya dan 8 juta diantaranya bergerak aktif. Sperma yang bergerak aktif ini sangat penting artinya, karena menunjukkan kemampuan sperma untuk bergerak dari tempat dia disemprotkan menuju tempat pembuahan (tuba fallopi, bagian dari kandungan wanita).

Hasil pemeriksaan biasanya disajikan dalam istilah sebagai berikut :
• Polyzoospermia   : Konsentrasi sperma sangat tinggi
• Oligozoospermia : Jumlah sperma kurang dari 20 juta/ml
• Hypospermia      : Volume semen < 1,5 ml • Hyperspermia : Volume semen > 5,5 ml
• Aspermia            : Tidak ada semen
• Pyospermia         : Ada sel darah putih pada semen
• Hematospermia   : Ada sel darah merah pada semen
• Asthenozoospermia : Sperma yang mampu bergerak < 40%. • Teratozoospermia : > 40% sperma mempunyai bentuk yang tidak normal
• Necozoospermia : sperma yang tidak hidup
• Oligoasthenozoospermia : Sperma yang mampu bergerak < 8 juta/ml 

Hasil pemeriksaan dikelompokkan ke dalam 4 kelompok, yaitu : bentuk normal, kepala tidak normal, ekor tidak normal, dan sel sperma yang belum matang (immature germ cells, IGC). 
Gerakan Sperma (Sperm Motility) dikatakan normal jika 40% atau lebih sperma dapat bergerak normal. tetapi, beberapa pusat laboratorium mengatakan bahwa nilai normal adalah 60% atau lebih. 

Contoh kesimpulan dalam pemeriksaan sperma : 
 -Jumlah Sperma : Oligozoospermia 
 - Motilitas          : Nekrozoospermia 
 - Morfologi        : Teraozoospermia 
 - Viabilitas         : Buruk 
 -Viskositas        : Normal 

Hasil pemeriksaan sperma yang normal menurut WHO 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan nilai acuan untuk analisa sperma/air mani yang normal, sebagai berikut : 
1. Volume total cairan lebih dari 2 ml 
2. Konsentrasi sperma paling sedikit 20 juta sperma/ml 
3. Morfologinya paling sedikit 15% berbentuk normal 
4. Pergerakan sperma lebih dari 50% bergerak kedepan, atau 25% bergerak secara acak kurang dari 1 jam setelah ejakulasi 
5. Adanya sel darah putih kurang dari 1 juta/ml 
6. Analisa lebih lanjut (tes reaksi antiglobulin menunjukkan partikel ikutan yang ada kurang dari 10 % dari jumlah sperma)

Read More......

SAMPEL DARAH

· 0 komentar




Darah merupakan cairan yg penting di dlm tubuh, fungsi utamanya yaitu sebagai alat pengangkut zat-zat di dlm tubuh. Darah terbentuk dari 2 bagian utama, yaitu plasma darah (mengisi sekitar 55% dari darah) dan sel-sel darah (mengisi sekitar 45% dari darah). Volume total darah orang dewasa diperkirakan sekitar 6 liter atau 7% - 8% dari berat tubuh.
Plasma merupakan cairan yg sangat komplek yg tdk hanya sebagai media mengapungnya sel-sel darah, tapi berisi zat-zat yg terlarut yg terdiri dari air, zat-zat makanan, gas, vitamin, dan sisa-sisa makanan.
ANTIKOAGULAN
Antikoagulan adalah zat yang mencegah penggumpalan darah dengan cara mengikat kalsium atau dengan menghambat pembentukan trombin yang diperlukan untuk mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin dalam proses pembekuan.
Ada beberapa antikoagulan yg banyak digunakan utk pemeriksaan laboratorium, diantaranya ;
1. EDTA ( ethylenediaminetetraacetic acid, [CH2N(CH2CO2H)2]2 ),
    Umumnya tersedia dalam bentuk garam sodium (natrium) atau potassium (kalium), mencegah koagulasi dengan cara mengikat atau mengkhelasi kalsium. EDTA memiliki keunggulan dibanding dengan antikoagulan yang lain, yaitu tidak mempengaruhi sel-sel darah, sehingga ideal untuk pengujian hematologi.
    Ada tiga macam EDTA, yaitu dinatrium EDTA (Na2EDTA), dipotassium EDTA (K2EDTA) dan tripotassium EDTA (K3EDTA). Na2EDTA dan K2EDTA biasanya digunakan dalam bentuk kering, sedangkan K3EDTA biasanya digunakan dalam bentuk cair.
Perbandingan bentuk kering kira-kira 1 mg EDTA untuk 1 ml darah, kalau bentuk Cair kira-kira 1 ml EDTA 10% untuk 5 ml darah
2. Trisodium citrate dihidrat (Na3C6H5O7 •2 H2O )
    Citrat bekerja dengan mengikat atau mengkhelasi kalsium. Antikoagulan Trisodium sitrat dihidrat 3.2% bisa direkomendasikan untuk pengujian koagulasi dan agregasi trombosit dan penggunaannya adalah 1 bagian citrate berbanding 9 bagian darah
Sedangkan Natrium sitrat konsentrasi 3,8% digunakan untuk pemeriksaan LED (laju endap darah) atau ESR (erythrocyte sedimentation rate) dan penggunaannya adalah 1 bagian sitrat berbanding 4 bagian darah.
3. Heparin
Antikoagulan ini merupakan asam mukopolisacharida yang bekerja dengan cara menghentikan pembentukan trombin dari prothrombin sehingga menghentikan pembentukan fibrin dari fibrinogen. Ada tiga macam heparin: ammonium heparin, lithium heparin dan sodium heparin. Dari ketiga macam heparin tersebut, lithium heparin paling banyak digunakan sebagai antikoagulan karena tidak mengganggu analisa beberapa macam ion dalam darah.
Konsentrasi dalam penggunaan adalah 0,1 – 0,2 mg heparin kering untuk 1 ml darah. Heparin tidak dianjurkan untuk pemeriksaan apusan darah karena menyebabkan latar belakang biru.
4. NH4 dan Ca Oxalat
Pertama-tama ammonium oxalat dicampurkan dgn Na oxalat dgn perbandingan 3 : 2. Gunakan campuran tersebut sebagai antikoagulan dgn perbandingan 2 mg campuran tadi untuk 1 ml darah

Read More......

pemeriksaan darah lengkap

· 0 komentar

Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi pada pasien yang menderita suatu penyakit infeksi.

Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu
  1. Hemoglobin
  2. Hematokrit
  3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)
  4. Trombosit (platelet)
  5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
  6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
  7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)
  8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
  9. Platelet Disribution Width (PDW)
  10. Red Cell Distribution Width (RDW)
Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke suatu Rumah Sakit yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar nilai normal biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan tersebut, sehingga diagnosa dan terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang dibutuhkan suatu laboratorium untuk melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam.

Hemoglobin
Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna merah.

Dalam menentukan normal atau tidaknya kadar hemoglobin seseorang kita harus memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbeda-beda di tiap laboratorium klinik, yaitu :
  • Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl
  • Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl
  • Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl
  • Anak anak : 11-13 gram/dl
  • Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl
  • Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl
  • Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl
  • Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl
Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi, gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll).
Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang paru paru, tumor, preeklampsi, hemokonsentrasi, dll. 


Hematokrit
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan untuk wanita berkisar 36,1% - 44,3%.
Seperti telah ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi pada penyakit-penyakit yang sama.



Leukosit (White Blood Cell / WBC)
Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam memerangi infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolik toksin, dll.
Nilai normal leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/ul darah.
Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada kasus penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan peningkatannya bisa ditemukan pada penyakit infeksi bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut, leukemia, gagal ginjal, dll



Trombosit (platelet)
Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi trombosit antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit bergerombol).
Nilai normal trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000 sel/ul darah.
Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian orang biasanya tidak ada keluhan. Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa ditemukan pada kasus demam berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP), supresi sumsum tulang, dll.


Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling banyak, dan berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.Nilai normal eritrosit pada pria berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta - 5,4 juta sel/ul darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK (penyakit paru obstruksif kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll, sedangkan eritrosit yang rendah bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit sistemik seperti kanker dan lupus, dll


Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC) 
Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia (Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain : 
    MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl)
    MCV =  Hematokrit x 10
                Eritrosit
    Nilai normal = 82-92 fl

    MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg)
     MCH = Hemoglobin x 10
                     Eritrosit
     Nilai normal = 27-31 pg

    MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah “gr/dl”)
      MCHC = Hemoglobin x 100
                      Hematokrit


      Nilai normal = 32-37 % 

Laju Endap Darah
Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan).
International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan panjang pipet Westergreen bisa dua kali panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang sangat tinggi masih terdeteksi.
Nilai normal LED pada metode Westergreen : Laki-laki : 0 – 15 mm/jam
                                                                      Perempuan : 0 – 20 mm/jam    


Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit.  Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya dinyatakan dalam sel/μl.
Nilai normal : Eosinofil 1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%, Monosit 2-8% 


Platelet Disribution Width (PDW)
PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi dapat ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis, sedangkan kadar PDW yang rendah dapat menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil.
Red Cell Distribution Width (RDW)RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang tinggi dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12, sedangkan jika didapat hasil RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang mempunyai ukuran variasi yang kecil.

Read More......

Cari Blog Ini

Memuat...

About Me

Foto Saya
anggel indra sakti
hidup dengan kebanggaan,bertarung dengan keberanian,dan mati dengan kehormatan......;;;; -kejujuran -kesetian -kedisiplinan -ketegasan membuat karakter akan menjadi bijak dan dewasa dalam menaggapi masalah....//////???
Lihat profil lengkapku

Pages

Daftar Blog Saya

Popular Posts

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Share It

apa blog ini membantu?

Pengikut

Fish

Blogroll

Blogger templates

Blogger news

Mangekyo Sharingan